Jumat, 23 Juli 2010

EMPAT KUNCI MENUJU KEBAHAGIAN KELUARGA SEJATI


Manusia hidup di dunia ini pastilah berburu kebahagiaan dunia akhirat. Dalam profesi atau keadaan yang bagaimanapun di kedalaman hati manusia pastilah berburu bahagia. Mereka memburu kaya atau pasangan yang istimewa (dengan ketampanan suami atau kecantikan isteri). Bila ditarik benang merah pastilah kebahagiaan yang mereka buru. 

Namun sebagaimana bisa kita bisa baca dalam salah satu tausiyah dan artikel dalam website ini, Syaikhina KHA. Masduqi Machfudz menyatakan bahwa betapapun jenius, brilian dan kecerdasan dari akal pikiran, ternyata manusia memiliki tiga macam kelemahan pokok yang tidak dapat dipecahkan oleh akal pikiran itu sendiri. 


Tiga kelemahan pokok tersebut adalah:


• Akal pikiran itu tidak dapat mengetahui hakekat kebenaran. Buktinya ialah banyak teori kebenaran yang dikemukakan oleh para ahli filsafat yang berbeda-beda antara teori yang satu dengan yang lain, padahal kita tahu dengan pasti bahwa kebenaran yang sejati hanyalah satu.

• Akal pikiran itu tidak dapat mengetahui letak dan hakekat kebahagiaan hidup. Buktinya ialah bahwa seringkali sesuatu yang dibayangkan oleh seseorang akan dapat membahagiakan hidupnya sehingga dia mengerahkan seluruh pikiran, tenaga dan dana yang ada padanya. Namun setelah tercapai ternyata malah membawa kesengsaraan hidup yang berkepanjangan.

• Akal pikiran itu tidak dapat mengetahui asal muasal manusia.



Artinya meskipun akal pikiran itu sangat cerdas, jenius, dan brilian, ternyata tidak dapat menjawab tujuh macam pertanyaan berikut:


1. Dari mana manusia itu datang sebelum hidup di dunia ini?
2. Mengapa manusia itu harus hidup di dunia ini?
3. Siapa gerangan yang menghendaki kehidupan manusia di dunia ini?
4. Untuk apa manusia hidup di dunia ini?
5. Mengapa setelah manusia terlanjur senang hidup di dunia dia harus mati? 
Padahal tidak ada seorangpun yang senang mati.
6. Siapa gerangan yang menghendaki kematian manusia?
7. Ke mana nyawa manusia setelah mati dan bangkainya dikubur?


Ketiga macam kelemahan akal pikiran manusia tersebut di atas adalah bukti yang nyata bahwa manusia mutlak memerlukan petunjuk yang dapat mengatasi ketiga kelemahan akal tersebut dan yang dapat memberikan bimbingan kepada manusia agar hidupnya di dunia ini dapat memiliki ketenangan dan ketentraman jiwa yang menjadi faktor penentu bagi kebahagiaan hidup.

Petunjuk tersebut dikenal dengan nama agama, yang berasal dari bahasa Sansekerta (bahasa India kuno), yang berarti:
• a = tidak,
• gama = kacau. 

Jadi yang dimaksud dengan agama adalah peraturan-peraturan yang dipergunakan untuk mengatur manusia agar hidupnya di dunia ini tidak kacau.

Rasulullah SAW sang pembawa ajaran agama Islam bersabda: 


"Dari Ibn Asaakir. Ada empat kunci kebahagiaan bagi seseorang muslim, yaitu mempunyai isteri yang salehah, anak-anak yang baik, lingkungan yang baik dan pekerjaan yang tetap di negerinya sendiri." HR Dailami



Pasangan yang saleh


Allah dalam al Quran surat Al Baqarah ayat 82 menyatakan:

"Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya."


Rasulullah juga pernah bersabda:

"Dunia adalah harta dan sebaik-baik harta adalah wanita yang shalihah." 


Allah seringkali menyertakan antara kata orang yang beriman dan beramal saleh, karena kesalihan itu hanya bisa timbul dari keimanan. Tanpa landasan keimanan perilaku sebaik apapun tidak bisa disebut amal shaleh. 

Di antara tanda-tanda isteri salehah adalah sebagaimana diisyaratkan Rasulullah dalam sebuah haditsnya: 


Empat golongan wanita calon penghuni surga:

• Wanita yang menjaga diri dari perbuatan haram dan berbakti kepada Allah dan suaminya. 
• Wanita yang banyak keturunannya, penyabar serta menerima dengan senang hati dalam segala keadaan hidup bersama suaminya.
• Wanita yang bersifat pemalu, jika suaminya pergi maka ia menjaga dirinya dan harta suaminya. dan jika suaminya datang maka ia mengekang mulutnya dari perkataan yang tidak layak kepadanya.
• Wanita yang apabila ditinggal mati suaminya, mengekang diri untuk tidak menikah karena takut anak-anaknya akan terlantar


Pasangan suami isteri yang saleh adalah pasangan yang senantiasa melestarikan amalan ahli surga, sebagaimana keberhasilan Rasulullah dalam membina rumah tangganya, sehingga beliau menyatakan: 

"Rumahku adalah surgaku". 


Artinya rumah yang dihuni oleh isteri yang salehah adalah yang mampu menciptakan bayang-bayang kenikmatan surgawi. Salah satu ciri wanita yang mampu menciptakan bayang-bayang kenikmatan surgawi adalah wanita yang memiliki rasa malu. Malu bergaul dengan sembarang orang, malu mengumbar aib suami, malu melakukan maksiat dan terpenting malu melakukan sesuatu yang tidak diridlai Allah ataupun suaminya.


Anak anak yang baik


Keluarga sakinah dan bahagia tidak akan tercipta di kala salah satu elemen terpentingnya menjadi seorang yang tidak mampu dibanggakan di hadapan Allah. Maka pendidikan anak yang memadai bagi kebutuhan ruhaninya sangatlah menentukan kebahagiaan bagi sebuah keluarga. Rasulullah pernah bersabda: 

"Taatilah perintah Allah dan jauhilah larangan Allah, dan perintahkanlah anak-anakmu untuk mentaati perintah Allah dan untuk menjauhi larangan Allah, dan dengan demikian engkau telah melindungi dirimu dan anak-anakmu dari siksa api neraka".


Kalau ada barang atau perhiasan dunia yang paling berharga, maka anak lebih pantas mendudukinya. Dia mengalahkan seluruh harta lainnya. Dia di atas segala sesuatu yang dimiliki. Anak merupakan perhiasan kehidupan dunia yang menjadi kebanggaan orang tua. Rasulullah bersabda: 

"Anak itu rezeki (wewangian) dari surga." HR Al Hakim.


Karena itu menjaga dan mendorong anak menjadi sosok yang baik dan dapat dibanggakan oleh orang tua di hadapan Allah adalah kunci kebahagiaan seseorang di dunia maupun di akhirat kelak.


Lingkungan yang baik


Ada sebuah peribahasa arab yang menyatakan: "al-insaanu waladul bii-ah. "
Manusia itu adalah anak dari lingkungannya. 
Maka memilihkan lingkungan yang baik bagi keluarga juga termasuk kunci kebahagiaan seseorang. Bagaimana seseorang berbahagia, manakala dia sudah berusaha menjaga keluarganya dari perilaku yang tidak baik, ternyata anak-anaknya, isterinya, suaminya memiliki perilaku yang tidak baik akibat pergaulan yang salah.


Pekerjaan yang tetap di negerinya sendiri


Tentu sudah tidak menjadi asing bagi kita, ketika mendengar seorang suami yang bekerja di luar kota atau bahkan di luar negeri ternyata ketika pulang isterinya sudah hamil atau melahirkan anak yang bukan dari bibit suami, atau sebaliknya. Kita juga pasti sudah sering mendengar anak menjadi broken home ketika kedua orang tuanya jauh darinya. Tidak ada kontrol dari kedua orang tua yang dia harapkan. Karena itu pekerjaan yang tetap di negeri sendiri merupakan kunci kebahagiaan bagi siapapun juga. "Hujan batu di negeri sendiri lebih baik daripada hujan emas di negeri orang."

Wallahu a’lam bissowab

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari catatan ini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar