Senin, 23 Agustus 2010

BUKU PUTIH AS SYEIKH MUHAMMAD ABDUL WAHAB

Perkataan-perkataan beliau dalam buku ini meluluh-lantakkantuduhan-tuduhan mereka. Jika mereka memiliki bukti dari perkataanbeliau yang menguatkan tuduhan tersebut makakeluarkanlah dan jangan disembunyikan. Jika mereka tidak bisa mendatangkannya, makakami menasihatkan,
"Telusurilah jalan Allah ta'ala dengan hati yang bersih dari hawa nafsudan kefanatikan terhadap suatu golongan. Mohonlah kepada-Nya agar Dia menunjukkankebenaran lalu ikutilah kebenaran itu. perhatikanlah perkataan-perkataan beliau, kemudianrenungkanlah; apakah beliau datang membawa ajaran baru yang tidak ada dalam al-Qur'andan as-Sunnah?

BUKU PUTIH AS SYEIKH MUHAMMAD ABDUL WAHAB
Diambil dari Kitab : Tashhihul Mafahimil Khoti'atiKarya: Syaikh DR. Shalih bin Abdul Aziz As-Sindy( Dosen Aqidah Universitas Islam Madinah )Diterjemahkan oleh: Nur Kholis Kurdian, Lc.(Dosen Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafii, Jember, Jawa Timur)Dikoreksi ulang oleh: Abdullah Zaen, Lc. & Muhammad Yasir, Lc.

Segala puji bagi Allah semata. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepadaRasulullah, keluarga dan para sahabatnya. Dari dulu hingga sekarang,perdebatan serta perbincangan seputar Syaikh Muhammad bin Abdul Wahabrahimahullah dan jalan dakwahnya, terus berkecamuk antara mereka yangpro dan yang kontra.

Dan yang mengherankan dari dakwaan mereka yang kontra -yang melontarkan tuduhan-tuduhankepada Syaikh- adalah: omongan mereka yang kosong dari dalil berupa bukti dari perkataan Syaikh atau tulisan beliau di dalam kitab-kitabnya, yang ada hanyalah tuduhan-tuduhanyang dilontarkan oleh orang-orang yang terdahulu, lalu 'difotokopi' oleh para pewaris mereka.Kami kira setiap orang yang obyektif sepakat bahwa jalan yang palingtepat untuk mengenal hakikat pemikiran seseorang adalah dengan carakembali langsung kepada orang tersebutatau kepada referensi-referensi yang otentik Alhamdulillahtulisan-tulisan serta ucapan-ucapan Syaikh (Muhammad bin AbdulWahhab-ed) sampai saat ini masih ada dan mudah untuk didapatkan. Dengan menelaah tulisan-tulisan tersebut, benar tidaknya isu-isu yangsementara ini tersebar di masyarakat akan terlihat. Adapuntuduhan-tuduhan yang tanpa bukti, maka ini bagaikan fatamorgana yangtidak ada hakikatnya.
Di tulisan ini, kami akan memaparkan ucapan-ucapan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahabyang kami nukil dengan penuh amanah dari referensi-referensi otentik yang menghimpunperkataan-perkataan beliau. Peran kami dalam buku ini hanyalah sebagai penyusun.Buku ini memuat jawaban-jawaban Syaikh sendiri, atas tuduhan-tuduhan utama yangdilontarkan 'para lawan' dakwah beliau. Kami amat yakin insya Allah dengan taufik dariAllah, tulisan ini akan cukup untuk menjelaskan al-Haq bagi mereka yang memangmenginginkannya.
Adapun mereka yang memusuhi dan menentang perjuangannya, yang tidak henti-hentinyamenebarkan tuduhan-tuduhan dusta, maka kami katakan kepada mereka:
'Sadarlah, karena sesungguhnya kebenaran telah jelas,agama Allah ta'ala akan menang dan cahaya matahari yang bersinar terangtidak bisa dihalangi dengan kedua telapak tangan.'
Perkataan-perkataan beliau dalam buku ini meluluh-lantakkan tuduhan-tuduhan mereka. Jikamereka memiliki bukti dari perkataan beliau yang menguatkan tuduhan tersebut makakeluarkanlah dan jangan disembunyikan. Jika mereka tidak bisa mendatangkannya, makakami menasihatkan,
"Telusurilah jalan Allah ta'ala dengan hati yang bersih dari hawa nafsudan kefanatikan terhadap suatu golongan. Mohonlah kepada-Nya agar Dia menunjukkankebenaran lalu ikutilah kebenaran itu. perhatikanlah perkataan-perkataan beliau, kemudianrenungkanlah; apakah beliau datang membawa ajaran baru yang tidak ada dalam al-Qur'andan as-Sunnah?
Kemudian renungkan kembali: Adakah jalan keselamatan selain dengan mengucapkankebenaran serta membenarkannya?
Jika telah datang kebenaran kepadamu maka terimalah danikutilah kebenaran tersebut; karena yang demikian lebih baik dari padabersikeras dalam kebatilan. Hanya kepada Allahlah semuanya akan kembali.

Hakikat Dakwah Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab
Alangkah baiknya kami paparkan terlebih dahulu penjelasan singkat tentang hakikat dakwahyang beliau serukan. Karena hingga saat ini 'para musuh' dakwah beliau masih terusmembangun dinding tebal di hadapan orang-orang awam, sehingga mereka terhalang untukmelihat hakikat dakwah sebenarnya yang diusung oleh beliau.Syaikh berkata,
"Segala puji dan karunia dari Allah, serta kekuatan hanyalah bersumber dari-Nya.Sesungguhnya Allah ta'ala telah memberikan hidayah kepadaku untuk menempuh jalanlurus, yaitu agama yang benar; agama Nabi Ibrahim yang lurus, dan Nabi Ibrahim itubukanlah termasuk orang-orang yang musyrik. Alhamdulillah aku bukanlah orang yangmengajak kepada ajaran sufi, ajaran imam tertentu yang aku agungkan atau ajaran orangfilsafat.
Akan tetapi aku mengajak kepada Allah Yang tiada sekutu bagi-Nya, dan mengajak kepadasunnah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam yang telah diwasiatkan kepada seluruhumatnya. Aku berharap untuk tidak menolak kebenaran jika datang kepadaku. Bahkan akujadikan Allah, para malaikat-Nya serta seluruh makhluk-Nya sebagai saksi bahwa jika datangkepada kami kebenaran darimu maka aku akan menerimanya dengan lapang dada. Lalu akankubuang jauh-jauh semua yang menyelisihinya walaupun itu perkataan Imamku, kecualiperkataan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam karena beliau tidak pernah menyampaikanselain kebenaran." (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/37-38).

"Alhamdulillah, aku termasuk orang yang senantiasa berusaha mengikuti dalil, bukan orangyang mengada-adakan hal yang baru dalam agama." (Kitab Muallafat Syaikh Muhammad binAbdul Wahab: V/36).
"Dan yang aku dakwahkan sebenarnya adalah: Kita tidak boleh menyembah kecuali hanyaAllah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagaimana firman-Nya, فَلاتَدْعُو مَعَ اللَّھِ أَحَداً "Maka kamu janganlah menyembah seorang pundi samping menyembah Allah". (QS. Al-Jin: 18).Allah ta'ala juga memerintahkan Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam,(قُلْ إِنِّي لا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرّاً وَلا رَشَداً (الجن: 21
"Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan suatukemudharatan pun kepadamu dan tidak ( pula)kuasa memberikan suatu kemanfaatan." (QS.Al-Jin: 21)
Inilah firman Allah ta'ala yang telah disampaikan dan diwasiatkan Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam kepada kita... Inilah yang akan menjadi hakim antara kalian dan diriku. Jikakalian mendengar tentang dakwahku selain yang kukatakan tadi, maka ketahuilah bahwa halitu adalah dusta." (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/90-91).

Poin Pertama: Keyakinan Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Tentang Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam Di antara tuduhan besar yang dilontarkan'musuh-musuh' dakwah Syaikh kepada beliau dalam masalah ini adalah:
1. Beliau dituduh tidak meyakini bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalahpenutup Para Nabi dan Rasul.
Demikianlah tuduhan yang tersebar, padahal semua kitab karangan beliau telahmembuktikan dustanya tuduhan ini. Di antara perkataan beliau yang membantah tuduhantersebut:
"Aku beriman bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah penutup ParaNabi dan Rasul. Keimanan seseorang tidak dianggap sah hingga dia beriman dengankenabian dan kerasulannya." (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/32).
"Orang yang paling bahagia, paling besar kenikmatannya dan paling tinggi derajatnyaadalah orang yang paling setia mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallamdan mengamalkan ajaran beliau." (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/21).
2. Beliau dituduh tidak memenuhi hak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam serta tidakmemposisikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana mestinya.Untuk menjelaskan hakikat tuduhan ini, kami akan kutip perkataan Syaikh yang menjelaskankeyakinan beliau tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Beliau berkata, "Ketika Allah ta'ala berkehendak untuk menampakkan Tauhid danmenyempurnakan agama-Nya di atas muka bumi, serta meninggikan kalimat Allah danmerendahkan kalimat orang-orang kafir; maka Allah ta'ala mengutus Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam sebagai penutup para rasul dan kekasih Rabb alam semesta. Beliausenantiasa dikenal setiap masa, bahkan disebutkan pula dalam kitab Taurat Nabi Musa'alaihis salam dan kitab Injil Nabi Isa 'alaihis salam. Hingga Allah ta'ala memunculkan mutiaratersebut di antara kabilah Bani Kinanah dan Bani Zahrah. Allah mengutus beliau di masamasaterputusnya (pengiriman) rasul-rasul, lalu menunjukinya jalan yang lurus.
Sebelum beliau diutus menjadi Rasul, telah tampak pada dirinya tanda-tanda kenabian yangtidak bisa ditiru oleh siapapun yang hidup di zamannya. Allah ta'ala menumbuhkan beliaudengan sebaik-baiknya hingga menjadi orang yang paling mulia akhlaknya, paling tinggi budipekertinya, paling tangguh kesabarannya, paling baik dengan para tetangganya, serta palingjujur tutur katanya, sehingga kaumnya menjulukinya sebagai al-amin (yang dipercaya);karena di dalam pribadinya terdapat perilaku yang baik dan sifat-sifat yang terpuji." (Kitabad-Durar as-Saniyyah: II/90-91).
"Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam adalah pemimpin para pemberi syafaat, dan pemberisyafaat agung (di padang mahsyar), Nabi Adam 'alaihis salam dan keturunannya kelakberada di bawah benderanya." (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/86).
"Rasul pertama adalah Nabi Nuh 'alaihis salam, dan rasul yang terakhir dan yang palingutama adalah nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam". (Kitab ad-Durar as-Saniyyah:I/143).
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyampaikan risalah kepada umatnyadengan sempurna dan menjelaskannya dengan sebaik-baiknya. Beliau adalah penasihatterbaik bagi para hamba Allah, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orangmukmin. Beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, berjihad dengansebenar-benarnya di jalan Allah ta'ala, serta beribadah kepada Allah ta'ala hingga ajalnyatiba." (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/21).

Syaikh menjelaskan bahwa sabda Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam: "Salah seorang darikalian tidak dianggap beriman hingga aku lebih dia cintai daripada orang tua dan anakanaknyaserta seluruh manusia", menunjukkan akan wajibnya mengedepankan kecintaankepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam atas kecintaan kepada diri sendiri, keluargadan harta bendanya. (Kitab at-Tauhid: hal. 108).

3. Beliau dituduh mengingkari syafa'at Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.Syaikh menjawab tuduhan ini dengan berkata, "Mereka menuduh kami mengingkari syafaatRasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Subhanallah! ini adalah kedustaan yang besar.Bahkan kami menjadikan Allah ta'ala sebagai saksi, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihiwa sallam adalah orang yang diberi izin Allah ta'ala untuk memberikan syafaat dan pemiliksyafaat agung (di padang mahsyar). Kami memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah agarmengizinkan beliau untuk memberikan syafaatnya kepada kita, dan semoga Allah ta'alamengumpulkan kita bersamanya kelak." (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/63-64).
"Yang mengingkari adanya syafaat adalah ahlul bid'ah dan orang yang sesat. Akantetapi syafa'at tersebut tidak akan bisa diraih kecuali setelah kita mendapatkan izin serta ridha dariAllah ta'ala. Sebagaimana firman-Nya, ( وَلا یَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى (الانبیاء: ٢٨
"Dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah." (QS. Al-Anbiya': 28).
Allah ta'ala juga berfirman.)مَنْ ذَا الَّذِي یَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِھِ (البقرة: 255"Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa seizin dari-Nya."(QS. Al-Baqarah: 255). (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/31).
Kemudian beliau menjelaskan sebab timbulnya tuduhan dusta tersebut, "Tatkala kusebutkankepada mereka apa yang difirmankan Allah ta'ala, apa yang disabdakan Rasul-Nyashallallahu 'alaihi wa sallam, serta apa yang dijelaskan para ulama dari berbagai mazhab,tentang perintah untuk memurnikan ibadah untuk Allah ta'ala semata serta larangan untukmenyerupai kaum Yahudi dan Nasrani yang menjadikan pendeta-pendeta dan rahib-rahibsebagai tuhan selain Allah ta'ala, mereka pun berkata, "Kamu telah melecehkan para nabi,orang-orang shalih dan para wali." (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/50).

Poin Kedua: Tentang Ahlul Bait (Keluarga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam).

Di antara tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada Syaikh: mereka mengatakan bahwabeliau membenci ahlul bait serta tidak memenuhi hak-hak mereka sebagaimana mestinya.Jawabannya: tuduhan tersebut tidak sesuai dengan fakta; karena kenyataannya beliaumengakui kedudukan mereka dan mencintai serta menghormati mereka, bahkan beliau mengingkari orang yang benci terhadap mereka,beliau berkata, "Allah ta'ala telah mewajibkan kepada umat ini untuk memenuhi hak-hak keluarga Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, maka tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk mengabaikan hak-hak mereka,dengan prasangka bahwa hal itu adalah bagian dari tauhid.
Keyakinan seperti itu termasuk dalam sikap ghuluw (berlebih-lebihan). Yang kami ingkari adalah model pemuliaan ahlul bait dengan cara meyakini bahwa dalam diri merekaterdapat sifat-sifat ketuhanan, juga aku mengingkari orang-orang yangmenghormati oknum-oknum yang mendakwakan haltersebut." (Kitab Muallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab: V/284).
Siapapun yang membaca biografi beliau, niscaya dia akan mengetahui kebenaran apa yangdiucapkannya. Cukuplah sebagai bukti akan kebenaran ucapan beliau; tatkala beliau menamai enam dari tujuh orang putra-putranya dengan nama-nama ahlul bait. Merekaadalah: Ali, Abdullah, Husain, Hasan, Ibrahim dan Fatimah. Ini merupakan salah satu buktiyang jelas tentang besarnya kecintaan beliau terhadap ahlul bait.

Poin Ketiga: Tentang Karamah Para Wali

Sebagian orang menyebarkan isu bahwa beliau mengingkari adanya karamah para wali.Perkataan beliau di berbagai pembahasan dalam kitab-kitabnya membuktikan dustanya tuduhan ini. Di antara ucapan beliau, "Aku meyakini keberadaan karamah para wali." (Kitabad-Durar as-Saniyyah: I/32).
Sungguh mengherankan, bagaimana mungkin beliau dituduh demikian, padahal beliau adalah orang yang menyifati golongan yang mengingkari karamah para wali dengan sebutan ahlul bid'ah dan golongan sesat?! Beliau berkata, "Dan tiada yang mengingkari karamah parawali melainkan ahlul bid'ah dan golongan yang sesat." (Kitab Muallafat Syaikh Muhammadbin Abdul Wahab: I/169).

Poin Keempat: Tentang Pengkafiran

Di antara tuduhan terbesar yang tersebar adalah: bahwa Syaikh Muhammad bin AbdulWahab beserta pengikutnya mengkafirkan kaum muslimin, dan meyakini bahwa nikahdengan mereka hukumnya tidak sah, kecuali jika menikah dengan orang yang sepahamdengannya atau orang yang hijrah kepadanya.Beliau telah membantah tuduhan ini di berbagai bukunya, antara lain ucapannya, "Tuduhan bahwa aku telah mengkafirkan kaum muslimin adalah dusta besar yang diada-adakan orangyang memusuhiku; untuk menghalang-halangi orang dari agama ini. Maka aku katakan,"Maha suci Engkau (wahai Rabbku), ini adalah kedustaan yang besar." (Kitab ad-Durar as-Saniyyah, I/100).
"Bermacam-macam tuduhan telah dilontarkan kepada kami, fitnah pun makin menjadi-jadi,mereka mengerahkan pasukan berkuda dan pasukan berjalan kaki dari kalangan iblis untuk menyerang kami. Dan di antara kebohongan yang mereka sebarkan, adalah tuduhan bahwa aku mengkafirkan seluruh kaum muslimin kecuali pengikutku, dan nikah dengan mereka hukumnya tidak sah. Untuk menukil tuduhan tersebut saja orang yang berakal merasa malu, apalagi untuk mempercayainya.Bagaimana mungkin orang yang berakalmemiliki keyakinan seperti itu? Apakah mungkin seorang muslim meyakini keyakinandemikian?. Aku berlepas diri dari tuduhan itu. Tuduhan itu tidaklah dilontarkan melainkan dari orang yang tidak waras dan linglung. Semoga Allah ta'ala memerangi orang-orang yangbermaksud jelek." (Kitab ad-Durar as-Saniyyah, I/80).
"Yang aku kafirkan adalah orang yang telah mengerti ajaran Rasulullah shallallahu 'alaihiwa sallam, lalu dia menghinanya, menghalangi manusia darinya, serta memusuhipenganutnya. Inilah yang aku kafirkan, dan alhamdulillah kebanyakan umat ini tidaklahdemikian keadaannya."(Kitab ad-Durar as-Saniyyah, I/73).

Poin Kelima: Tentang Pemikiran Khawarij

Sebagaian orang menuduh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berpemikiran Khawarij,yaitu mengkafirkan orang yang berbuat maksiat.
Beliau menjawab, "Aku tidak akan mengatakan tentang seorang pun dari kaum musliminbahwa dia pasti masuk surga atau neraka, kecuali orang yang telah dipersaksikan demikianoleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Aku berharap semoga orang yang baik masuk surga, dan aku mengkhawatirkan orang yang berbuat jelek akan masuk neraka. Aku tidakmengkafirkan seorang pun dari kaum muslimin, serta mengeluarkannya dari agama ini,hanya karena dia terjerumus ke suatu perbuatan dosa." (Kitab ad-Durar as-Saniyyah, I/32).

Poin Keenam: Tentang Menyifati Allah Ta'ala Dengan Sifat Tubuh, Seperti Tubuhnya Makhluk

Di antara isu-isu yang tersebar di publik, bahwasanya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab mensifati Allah ta'ala dengan sifat tubuh, yakni menyamakan sifat-sifat Allah dengan sifatsifatmakhluk-Nya.
Beliau telah menjelaskan keyakinannya dalam masalah ini, dan kenyataannya beliau amat jauh dari keyakinan batil di atas. Beliau berkata, "Termasuk bagian dari keimanan kepadaAllah ta'ala adalah: mengimani sifat-sifat-Nya yang telah disebutkan dalam Kitab danSunnah, tanpa mengotori keimanan tersebut dengan tahrif (merubah lafaz maupun makna)dan ta'thil (pengingkaran secara total maupun parsial). Aku meyakini bahwa tidak adasesuatu pun yang serupa dengan Allah subhanahu wa ta'ala, dan Dialah Yang MahaMendengar lagi Maha Melihat. Aku tidak mengingkari sifat-sifat Allah yang disebutkan didalam al-Qur'an maupun Sunnah. Aku juga tidak menyelewengkan makna sifat-sifattersebut, atau berupaya untuk mereka-reka keadaan serta bentuk yanghakiki dari sifat-sifat itu. Aku tidak menyerupakan sifat-sifat Allahta'ala dengan sifat-sifat makhluk-Nya; karenatidak ada yang serupa dengan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya dan Dia tidak dianalogikandengan para makhluk-Nya.
Sesungguhnya Allah ta'ala Maha Mengetahui Dzat-Nya serta makhluk-Nya juga Maha benarfirman-Nya. Allah telah berlepas diri dari keyakinan-keyakinan golongan takyif (yangberupaya untuk mereka-reka keadaan serta bentuk yang hakiki dari sifat-sifat Allah),maupun golongan tamtsil (yang menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya). Juga Allah telah berlepas diri dari keyakinan-keyakinan golongan tahrif (yang merubahlafazh maupun makna sifat-sifat-Nya) maupun golongan ta'thil (yang mengingkari sifat-sifat-Nya secara total maupun parsial). Allah ta'ala berfirman,
182 - (سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا یَصِفُونَ. وَسَلامٌعَلَى الْمُرْسَلِینَ. وَالْحَمْدُ لِلَّھِ رَبِّ الْعَالَمِینَ (الصافات:180"Maha suci Rabb-mu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dankesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Rabb sekalian alam".(QS.Ash-Shafat: 180-182)." (Kitab ad-Durar as-Saniyyah, I/29).
"Sebagaimana telah maklum bahwa ta'thil (pengingkaran sifat-sifat Allah secara totalmaupun parsial) adalah lawan dari tajsim (menyifati Allah ta'ala dengan sifat jasmani sepertijasmani makhluk). Dua keyakinan ini saling bermusuhan. Dan keyakinan yang benar adalah sikap yang tengah di antara keduanya (yaitu: meyakini sifat-sifat Allah tanpa menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk-Nya)." (Kitab ad-Durar as-Saniyyah, III/11).

Poin Ketujuh: Tentang Menyelisihi Pendapat Para Ulama

Sebagian orang mengatakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam dakwahnya telahmenyelisihi para ulama, tidak menghiraukan perkataan mereka, tidak pula merujuk kepadakitab-kitab mereka. Bahkan beliau dituduh telah menciptakan ajaran baru dan membawa pemahaman madzhab yang kelima.
Sebaik-baik bantahan atas tuduhan ini adalah pengakuan beliau sendiri,"Aku adalah orang yang bertaqlid kepada Kitab dan Sunnah, serta parasalafus salih. Aku juga bergantung dengan perkataan para imam madzhabyang empat; Imam Abu Hanifah al-Nu'man binTsabit, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi'i danImam Ahmad bin Hanbal. Semoga Allah merahmati mereka semua." (Kitab Muallafat Syaikh Muhammad binAbdul Wahab: V/97).
"Seandainya kalian mendapatkan fatwaku menyelisihi ijma' para ulama, maka tunjukkan padaku." (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/53)
"Jika kalian mengira bahwa para ulama telah menyelisihi apa yang aku ajarkan,sesungguhnya di hadapan kalian ada kitab-kitab mereka, (bacalah dengan seksama danbandingkan dengan apa yang kuajarkan)."(Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/58).
"Aku selalu membandingkan perkataan orang yang bermadzhab Hanafi, Maliki, Syafi'imaupun Hambali dengan perkataan ulama yang mu'tamad (terpercaya) dalam madzhab tersebut." (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/82).
"Walhasil yang aku ingkari adalah pengkultusan terhadap selain Allah ta'ala. Maka jikaajaranku bersumber dari pendapatku sendiri, atau dari buku yang tidak tepercaya, atausemata-mata dari hasil taqlidku kepada para ulama mazhabku (mazhab Hambali); makabuanglah jauh-jauh ajaranku. Namun jika ajaranku bersumber dari Kitab dan Sunnah sertaIjma' para ulama dari berbagai mazhab; maka tidak layak bagi orang yang beriman terhadapAllah ta'ala dan hari akhir, untuk menolaknya; hanya gara-gara kebanyakan orang dizamannya, atau di negerinya menyelisihi ajaran tersebut." (Kitab ad-Durar as-Saniyah: I/76).

Penutup

Di penghujung tulisan ini, kami akan mempersembahkan nasihat yang disampaikan olehSyaikh Muhammad bin Abdul Wahab:
Nasehat pertama adalah untuk orang-orang yang memusuhi dakwah ini dan parapengikutnya, yang senantiasa berusaha untuk menghalanginya, serta melontarkan berbagaimacam tuduhan batil kepadanya.
Beliau berkata,
"Aku ingatkan orang-orang yang menyelisihiku: Seluruh manusiaberkewajiban untuk mengikuti apa yang telah diwasiatkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihiwa sallam kepada umatnya. Bukankah kitab-kitab agama ada pada kalian? Bacalah!Janganlah kalian mengambil sedikitpun dari perkataanku! Namun jika kalian mendapatkanhadits-hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam kitab-kitab tersebut, makaamalkanlah! Meskipun kebanyakan manusia tidak mengamalkannya..Jangan kalian menaatiku!Namun taatilah perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,yang telah disebutkan di dalam kitab-kitab kalian..
Ketahuilah bahwa tidak ada yang bisa menyelamatkan kalian melainkan hanya berpegangteguh kepada tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Hidup di dunia ini hanyalahsementara. Tidak pantas bagi orang yang berakal untuk melupakan surga dan neraka." (Kitabad-Durar as-Saniyyah: I/89-90).
"Aku mengajak orang-orang yang menyelisihiku untuk berpegang dengan empat perkara:
Kitabullah, Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan ijma' para ulama. Jika kaliantetap keras kepala, maka aku mengajak kalian untuk mubahalah (masing-masing pihak diantara orang-orang yang berbeda pendapat berdoa kepada Allah ta'ala dengan sungguh-sungguh,agar Allah ta'ala menjatuhkan laknat kepada pihak yang salah)." (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/55).
Nasehat kedua adalah bagi orang yang sedang merasa bingung, tidak mengerti mana yangbenar dan mana yang salah dalam perkara ini.
Syaikh berkata, "Mohonlah (petunjuk) dengan sungguh-sungguh kepada Allah ta'ala, denganmerendahkan diri kepada-Nya, terutama pada waktu-waktu yang mustajab; di antaranyapada waktu sepertiga malam yang terakhir, di akhir shalat, dan antara azan dengan iqamat.Bacalah doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, terutama yangtertera dalam hadits shahih. Seperti doa yang senantiasa beliau shallallahu 'alaihi wa sallambaca,
اللھم رب جبرائیل ومیكائیل وإسرافیل, فاطر السماوات والأرض, عالم الغیب والشھادة, أنت تحكم بین عبادك فیما كانوا.فیھ یختلفون, اھدني لما اختلف فیھ من الحق بإذنك, إنك تھدي من تشاء إلى صراط مستقیم"Wahai Rabb Jibril, Mikail dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Engkaulah yang memutuskan perselisihan di antara hamba-hamba-Mu. Dengan izin-Mu, tunjukkanlah kepadaku kebenaran yang mereka perselisihkan.Sesungguhnya Engkaulah yang menunjuki orang yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus."
Hendaknya engkau sering memanjatkan doa tersebut, kehadirat Dzat yang mengabulkandoa orang yang sedang tertimpa kesusahan. Dialah Yang menunjukkan Nabi Ibrahim 'alaihissalam kepada kebenaran, meskipun menyelisihi seluruh manusia pada zamannya. Ucapkanpula, "Wahai Dzat yang mengajari Nabi Ibrahim, ajarilah aku."
Dan jika kamu merasa berat (ketika akan mengamalkan kebenaran) gara-gara menyelisihimasyarakatmu, maka renungkanlah firman Allah ta'ala,
ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِیعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْھَا وَلاتَتَّبِعْ أَھْوَاءَ الَّذِینَ لا یَعْلَمُونَ. إِنَّھُمْ لَنْ یُغْنُواعَنْكَ مِنَ اللَّھِ شَیْئاً وَإِنَّ الظَّالِمِینَ19- .(بَعْضُھُمْ أَوْلِیَاءُ بَعْضٍ وَاللَّھُ وَلِيُّ الْمُتَّقِینَ (الجاثیة: 18
"Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama)itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sama sekali tidak akan dapat melindungimu dari(siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang dzalim itu sebagian mereka menjadipenolong bagi yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa."(QS. Al-Jatsiyah: 18-19).
Juga firman Allah ta'ala,(وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ یُضِلُّوكَ عَنْ سَبِیلِ اللَّھِ (الأنعام: 116
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akanmenyesatkanmu dari jalan Allah." (QS. Al-An'am: 116)
Renungkanlah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Islam pertama kali datangdianggap asing, dan (di akhir zaman) akan kembali dianggap asing."
Juga sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, "Sesungguhnya Allah ta'ala tidak mencabutilmu dari muka bumi ini dengan begitu saja, akan tetapi mencabutnya dengan meninggalnya para ulama. Jika tiada lagi ulama di muka bumi, maka manusia akan menjadikan orang-orangbodoh sebagai pemuka agama; sehingga mereka sendiri sesat dan menyesatkan."Begitu pula sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam,"Ikutilah sunnahku dan sunnahKhulafaur Rasidin sesudahku (Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin 'Affandan Ali bin Abi Thalib)."
Dan sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, "Dan jauhilah hal-hal baru dalam agama(bid'ah), karena semua bid'ah dalam agama adalah sesat." (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: I/42-43).
"Dan jika telah jelas bagimu bahwa inilah kebenaran, yang tidak ada keraguan lagi didalamnya, maka wajib bagimu untuk menyampaikan kebenaran itu kepada umat manusiadan mengajarkannya kepada kaum muslimin dan muslimat.
Semoga Allah ta'ala merahmati orang yang menunaikan kewajibannya, bertaubat kepada-Nya, dan mengakui kesalahannya. Ketahuilah bahwa orang yang bertaubat dari suatukesalahan, bagaikan orang yang tidak memiliki dosa.
Semoga Allah ta'ala menunjukkan kepada kami, kalian dan seluruh saudara-saudara kita jalan yang dicintai dan diridhai-Nya. Wassalam." (Kitab ad-Durar as-Saniyyah: II/43).

Shalawat, salam serta barakah Allah semoga tetap tercurahkan kepada hamba dan Rasul-Nya, Nabi kita dan kekasih kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, beserta seluruhkeluarga dan para sahabatnya.

1 komentar:

  1. Wahaby hanya pinter copas sana sini..
    Modal cuma copas doank..

    BalasHapus