Rabu, 16 November 2011

DALIL-DALIL TENTANG KEADILAN SHAHABAT DARI AL-QUR'AN DAN SUNNAH

1. Allah berfirman (yang artinya):

"Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, kalian menyuruh yang ma'ruf dan mencegah yang munkar dan kalian beriman kepada Allah". (Ali-Imran : 110)

"Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kalian umat yang adil dan pilihan". (Al-Baqarah : 143) 

2. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan bahwa para shahabat dan umat Islam yang mengikuti jejak mereka adalah orang-orang yang adil. Sebagaimana sabda beliau:

"Dari Abu Sa'id Al-Khudri adalah ia berkata: "Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Nuh akan dipanggil pada hari kiamat. Lalu ia menjawab: "Aku penuhi panggilan-Mu dan Maha Bahagia nama-Mu wahai Rabb-ku". Allah bertanya: "Apakah sudah engkau sampaikan (dakwah/risalah)?" Ia berkata: "Ya sudah". Lalu umatnya ditanya: "Apakah ia sudah menyampaikan (risalah) kepada kalian?" Mereka berkata: "Tidak pernah ada pemberi peringatan (da'i) yang datang kepada kami." Allah bertanya lagi kepada Nuh 'Alaihi sallam: "Siapakah yang akan menjadi saksi bagimu (bahwa kamu sudah menyampaikan risalah)?" 

Ia (Nuh) menjawab: "Muhammad dan umatnya". Kemudian ia menjadi saksi bahwa ia telah menyampaikan risalah dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjadi saksi atas kalian. Demikianlah Allah berfirman: "Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kalian umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjadi saksi atas (perbuatan) kalian". Wasath dalam ayat ini bermakna adil. (Hadits Shahih Riwayat Bukhari/Fathul Bari 8 : 171-172 No. 4487). 

4. Allah meridhai mereka (para Shahabat dari Muhajirin dan Anshar) dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik.

"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalirkan sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar". (At-Taubah : 100)

"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu'min ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon". (Al-Fath : 18)

"Muhammad Rasul Allah dan orang-orang yang bersama beliau adalah keras terhadap orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka ; kalian lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya ..." (Al-Fath : 29) 

5. Sifat-sifat para Shahabat yang disebutkan dalam Al-Qur'an adalah : 

• Mereka adalah orang-orang yang benar-benar beriman. (Al-Anfaal : 74). 
• Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. (Al-Hujuraat : 7) 
• Mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (At-Taubah : 20) 
• Mereka adalah orang-orang yang benar. (At-Taubah : 119) 
• Mereka adalah orang-orang yang bertaqwa. (Al-Fath : 26) 
• Mereka adalah orang-orang yang menjengkelkan orang-orang kafir dan mereka benci kepada kekafiran. (Al-Fath : 29) 
• dan sifat-sifat lainnya yang termasuk dalam Al-Qur'an. 
6. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

"Sebaik-baik manusia adalah zamanku ini, kemudian yang sesudah itu, kemudian yang sesudah itu, kemudian nanti akan ada satu kaum dimana persaksian seorang dari mereka mendahului sumpahnya, dan sumpahnya itu mendahului persaksiannya." (Hadits Shahih Riwayat Bukhari 4:189, Muslim 7:184-185, Ahmad 1:378,417,434,442 dan lain-lain). 

7. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

"Hendaklah orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir". 
Kata Ibnu Hibban: "Hadits ini sebesar-besar dalil yang menunjukkan bahwa semua shahabat adil dan tidak satupun diantara mereka yang tercela dan lemah". (Al-Jarh wat Ta'dil oleh Abi Lubabah ; Ibnu Hibban 1:123).

Ibnu Abbas berkata: "Janganlah kalian mencaci maki atau menghina para shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Sesungguhnya kedudukan salah seorang dari mereka bersama Rasulullah sesaat (sejam) itu lebih baik daripada amal seorang dari kalian selama 40 (empat puluh) tahun". (Hadits Riwayat Ibnu Batthah dengan sanad yang shahih) [Lihat Syarah Aqidah Thahawiyah hal. 469 hal, Takhrij Syaikh Al-Albani]

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak akan masuk neraka seorangpun dari orang-orang yang berba'iat di bawah pohon (di Hudaibiyyah)". (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Muslim).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak akan masuk neraka seseorang yang ikut serta dalam perang Badar dan Perjanjian Hudaibiyyah". (Hadits Shahih Riwayat Ahmad III:396 dari Jabir). 

Penjelasan

Ayat-ayat dan hadits-hadits di atas menunjukkan dengan jelas bahwa para shahabat ridwanullahi 'alaihim ajmain adalah orang-orang yang telah mendapat pujian dan sanjungan dari Allah dan Rasul-Nya, mereka mempunyai jasa yang besar bagi Islam dan kaum Muslimin.

Islam yang diterima oleh kaum Muslimin sampai hari Kiamat adalah berkaitan dengan pengorbanan para shahabat yang ikut serta dalam perang Badar dan perang-perang lainnya demi tegaknya agama Islam. Karena itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengingatkan umat Islam bahwa apa yang mereka infaq-kan dan belanjakan fii-sabilillah belumlah dapat menyamai derajat para Shahabat, meskipun umat Islam ini berinfaq sebesar gunung Uhud berupa emas atau barang-barang berharga lainnya.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata tentang Shahabat-shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Tidak ada seorangpun dari kalian yang dapat menyamai mereka. Mereka siang hari bergelimang pasir dan debu (di medan perang), sedang di malam hari mereka banyak berdiri, ruku' dan sujud (beribadah kepada Allah) silih berganti; tampak kegesitan dari wajah-wajah mereka, seolah-olah mereka berpijak di bara api bila mereka ingat akan hari pembalasan (Akhirat), tampak bekas sujud di dahi mereka, bila mereka mengingat Allah berlinang air mata mereka sampai membasahi baju mereka; mereka condong laksana condongnya pohon dihembus angin yang lembut karena takut akan siksa Allah, serta mereka mengharapkan pahala dan ganjaran dari Allah". Kemudian beliau berkata lagi: "Mereka adalah shahabat-shabatku yang telah pergi, pantas kita merindukan mereka dan bersedih karena kepergian mereka". [Najhul Balaghah yang di tahqiq oleh Dr. Shubhi Shaleh cet. Daarul Kutub Al-Lubnani (Beirut) hal. 143,177,178 dinukil dari Shuratani Mutadhatani, Tarjamah Bey Arifin hal. 16-17]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar