Rabu, 02 Februari 2011

HARUSKAH MUSLIMAH MEMAKAI HITAM- HITAM MENYERAMKAN ?

Tentang pakaian syuhroh Ibnul Atsir -sebagaimana yang dikutip oleh asy Syaukani dalam Nailul Author juz 2 hal 470- mengatakan,
الشهرة ظهور الشيء ، والمراد أن ثوبه يشتهر بين الناس لمخالفة لونه لألوان ثيابهم فيرفع الناس إليه أبصارهم ويختال عليهم والتكبر
Syuhroh adalah sesuatu yang menonjol.

Yang dimaksud dengan pakaian syuhroh adalah pakaian yang menyebabkan pemakai menjadi kondang di tengah-tengah masyarakat disebabkan warna pakaiannya menyelisihi warna pakaian yang umum dipakai masyarakat. Akhirnya banyak orang menatap tajam orang yang memakai pakaian tersebut dan pemakainya sendiri lalu merasa dan bersikap sombong terhadap orang lain”.

Dalam kutipan di atas terdapat indikator pakaian syuhroh yaitu banyak orang menatap tajam orang yang memakainya.

Hal ini menunjukkan bahwa jika suatu jenis pakaian itu kurang umum atau kurang familiar , alias kurang memasyarakat di suatu daerah namun orang-orang di daerah tersebut menganggapnya wajar sehingga tidak ada sorotan mata yang tajam ditujukan kepada orang tersebut maka pakaian itu bukanlah pakaian syuhroh yang tercela.

Dalam kutipan di atas juga disampaikan dampak buruk dari pakaian syuhroh yaitu menimbulkan perasaan dan sikap sombong orang yang mengenakan terhadap orang-orang di sekelilingnya.

Perkataan Ibnul Atsir di atas jelas menunjukkan adanya pakaian syuhroh yang tercela gara-gara masalah warna pakaian. Warna pakaian yang nyleneh dengan umumnya warna pakaian di suatu masyarakat dinilai oleh Ibnul Atsir sebagai pakaian syuhroh yang tercela.
Lantas bagaimana dengan warna hitam yang suka dipakai oleh sebagian muslimah di negeri kita, apakah tergolong termasuk pakaian syuhroh yang tercela?
Jawaban masalah ini bisa kita jumpai rubrik tanya jawab Majalah As-Sunnah Solo tepatnya pada edisi 5 tahun XIII Sya’ban 1430 atau Agustus 2009 pada halaman kelima dengan judul “Soal Warna Baju”.

Redaksi Majalah As Sunnah mendapatkan pertanyaan sebagai berikut, “Ana mau menanyakan apa hukum berpakaian bagi seorang muslimah dengan warna pakaian terang. Apakah ada hadits yang menyatakan berpakaian warna gelap disunahkan? Terkait di Indonesia misalnya, yang sudah menjadi hal umum berpakaian berpakaian warna terang. Apakah bisa dijadikan dalil pemborehan yang berbeda dengan muslimah di negara-negara Arab? Mohon penjelasannya. Jazakumullahu khair” Amri, Samarinda +62852483xxxxx

Berikut ini jawaban redaksi majalah As Sunah atas pertanyaan di atas, “Seorang wanita muslimah boleh memakai pakaian berwarna terang selama tidak menimbulkan fitnah (baca: godaan terhadap lawan jenis, ed) berdasarkan beberapa riwayat dari para wanita salaf [riwayat-riwayat ini bisa dilihat di dalam kitab Jilbab Mar’atil Muslimah, hlm 121-124; karya Syaikh al Albani].
Namun sepantasnya meninggalkan pakaian berwarna terang yang menarik perhatian atau berwarna-warni yang menarik hati laki-laki.

Karena tujuan perintah berjilbab adalah untuk menutupi perhiasan. Kalau jilbab/pakaian itu sendiri dihiasi dengan renda, bros, aksesori, warna-warni yang menarik pandangan orang maka ini bertentangan dengan firman Allah azza wa jalla,
ولا يبدين زينتهن
Dan janganlah para wanita mukminah itu menampakkan perhiasan mereka” (QS an Nur/24:31).
Ummu Salamah-radhiyallahu ‘anha- berkata,
لما نزلت: يدنين عليهن من جلابيبهن خرج نساء الأنصار كأن علي رؤوسهن الغربان من الأكسية
Ketika turun firman Allah (yang artinya), “Hendaknya mereka (wanita-wanita beriman) mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka” (QS al Ahzab/33:59) wanita-wanita Anshar keluar seolah-olah pada kepala mereka terdapat burung-burung gagak karena warna (warna hitam-red) kain-kain (mereka). HR Abu Daud no 4101; dishahihkan oleh Syaikh al Albani.

Hadits ini menunjukkan bahwa wanita-wanita anshar tersebut mengenakan jilbab-jilbab berwarna hitam.
Oleh karena itulah jika keluar rumah, hendaklah wanita memakai pakaian yang berwarna gelap, tidak menyala dan berwarna-warni agar tidak menarik pandangan orang. [Dan tidak harus berwarna hitam, apalagi di sebagian daerah yang masyarakatnya memandang warna hitam itu menyeramkan]. Wallahu a’lam”.

Demikian jawaban redaksi majalah As- Sunah namun sebagian kalimat yang ditebalkan itu berasal dari saya pribadi, bukan dari pihak redaksi.
Jadi di sebagian tempat warna pakaian hitam yang dikenakan oleh seorang muslimah itu bisa jadi menjadi pakaian syuhroh ketika warna hitam di daerah tersebut dinilai adalah warna yang “menyeramkan” sehingga dalam kondisi seperti ini sangat tidak dianjurkan untuk memakai warna hitam.
Artikel www.ustadzaris.com

HUKUM ONANI

Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7)
Yang artinya, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari (penyaluran hasrat seksual) selain itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas” (QS al Mukminun:5-7).
Ibnu Katsir asy Syafii mengatakan, “Imam Syafii dan para ulama lain yang sependapat dengan beliau berdalil dengan ayat di atas untuk menegaskan haramnya onani atau masturbasi” [Tafsir Ibnu Katsir jilid 3 hal 321 ketika menafsirkan surat al Mukminun 1-11, terbitan Darus Salam Riyadh].
قال: فهذا الصنيع خارج عن هذين القسمين
Imam Syafii mengatakan, “Perbuatan ini (baca:onani) tidak termasuk dua jenis penyaluran hasrat seksual yang Allah bolehkan”[ Tafsir Ibnu Katsir jilid 3 hal 321].
عن أنس بن مالك، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “سبعة لا ينظر الله إليهم يوم القيامة، ولا يزكيهم، ولا يجمعهم مع العاملين، ويدخلهم النار أول الداخلين، إلا أن يتوبوا، فمن تاب تاب الله عليه: ناكح يده، والفاعل، والمفعول به، ومدمن الخمر، والضارب والديه حتى يستغيثا، والمؤذي جيرانه حتى يلعنوه، والناكح حليلة جاره”
Dari Anas bin Malik, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Ada tujuh macam manusia yang tidak Allah pandang pada hari Kiamat nanti, tidak akan Allah sucikan , tidak akan Allah kumpulkan bersama orang-orang yang beramal kebajikan dan akan Allah masukkan ke dalam neraka pertama kali kecuali jika mereka bertaubat sebelum meninggal dunia. Jika benar-benar bertaubat maka Allah akan menerima taubat mereka. Tujuh macam manusia tersebut adalah pelaku onani, subjek ataupun objek dalam homoseksual, pecandu khamr, anak yang mukuli orang tuanya sampai-sampai keduanya teriak-teriak minta tolong, orang yang hobi mengganggu para tetangganya sampai mereka mencaci maki dirinya dan orang yang berzina dengan isteri tetangganya” [Ibnu Katsir mengatakan bahwa hadist di atas diriwayatkan oleh Imam al Hasan bin ‘Arafah dan pada sanad hadits tersebut terdapat perawi yang tidak dikenal].
قال عبد الله بن عباس ان للحسنة ضياء في الوجه ونورا في القلب وسعة في الرزق وقوة في البدن ومحبة في قلوب الخلق وإن للسيئة سوادا في الوجه وظلمة في القبر والقلب ووهنا في البدن ونقصا في الرزق وبغضة في قلوب الخلق
Salah seorang shahabat Nabi, Abdullah bin Abbas mengatakan, “Amal shalih itu menyebabkan wajah bercahaya, hati bersinar, kelapangan rezki, badan yang semakin kuat dan disukai oleh banyak orang. Sebaliknya, maksiat itu menyebabkan wajah nampak hitam, hati suram, gelap di alam kubur, badan menjadi lemah, rezki berkurang dan tidak disukai oleh banyak orang” [ad Da’ wad Dawa’ karya Ibnul Qayyim tahqiq Ali Hasan hal 86, cet Dar Ibnul Jauzi Damam KSA].

10 HAL YANG MEMBATALKAN KEISLAMAN

Segala puji untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan hidayah kepada hamba-hamba-Nya dalam mentaati perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Shalawat beserta salam tercurahkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang me...ngikutinya dengan kebaikan sampai Hari pembalasan.

Sesungguhnya sebagai seorang Muslim wajib baginya untuk berpegang teguh dengan agamanya, dengan mempelajari, memahami, menghayati dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. 

 

Sebagai seorang muslim Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan bagi setiap muslim untuk masuk kedalam agama Islam ini secara menyeluruh (Kaffah) dalam semua aspek, baik aspek aqidah, ibadah, mu'amalah serta akhlak sebagaimana seruan Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam Al-Qurân:

"Wahai orang-orang yang beriman masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan, sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu". (QS. al-Baqarah: 208).


Demikian juga sebagai seorang muslim dilarang baginya untuk berpaling dari menta'ati Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, karena yang demikian itu akan membawanya kepada kesengsaraan hidup dan penyesalan di akhirat, sebagaimana yang dijelaskan di dalam Al-Qurân:

"Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya di Hari Kiamat dalam keadaan buta, lalu ia berkata : Ya Tuhanku, mengapa engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya seorang yang dapat melihat. 

 

Lalu Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". (QS. Thoha: 124-126)


Oleh karena itu seorang Muslim wajib menjaga agamanya dari apa-apa yang akan merusak, membatalkan keislamannya yang secara tidak langsung tanpa disadarinya dia telah melakukan suatu perkara yang telah merusak keislamannya bahkan bisa mengeluarkannya dari agama Islam. 

Untuk mengingatkan kaum muslimin agar tidak terjerumus kepada hal demikian, maka Insya Allah Ta'ala pada tulisan kali ini akan dibahas hal-hal yang akan membatalkan keislaman seseorang.

Jika salah seorang muslim terperosok kepada salah satu dari pembatal keislaman ini maka dia bisa keluar dari agama Islam, dan wajib baginya bersegera untuk bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.



Ada sepuluh perkara Pembatal keislaman, dan hal ini telah banyak terjadi serta tersebar di tengah-tengah masyarakat:

1. Syirik dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Syirik merupakan induk dari segala dosa, sebagaimana yang dijelaskan dalam firman-Nya:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa Syirik dan Dia akan mengampuni segala dosa selain dari (syrik) itu, bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiap yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar". (QS. an-Nisa': 48)


Bahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala mengharamkan Surga bagi orang-orang Musyrik, sebagaimana firman-Nya:

"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan Surga baginya, dan tempatnya ialah neraka, dan tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorangpun penolong". (QS. al-Maidah: 72)


Bahkan perbuatan syirik akan menghapus amal seseorang sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qurân:

"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu; Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan hapuslah amalmu, dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi". (QS. az-Zumar: 65)

Syirik juga adalah kezhaliman yang menduduki peringkat pertama dari dosa-dosa yang lain, sebagaimana yang Allah Ta'ala khabarkan di dalam Al-Qurân:
"Sesungguhnya syirik (mempersekutukan Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang sangat besar". (QS. Luqman ayat 13)

Diantara bentuk-bentuk Kesyirikan seperti: Berdo'a kepada orang-orang yang telah mati, meminta tolong kepada manusia dalam urusan-urusan yang manusia tidak mampu melakukannya, beristighatsah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala, bernazar, menyembelih kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla, mendatangi tukang ramal, dukun, tukang sihir dan lain-lainnya.

Begitu besar dan banyaknya bahaya syirik ini maka pantaslah seseorang yang terjatuh ke lembah kesyirikan ini menjadi rusak dan batal keislamannya.



2. Menjadikan/membuat perantara antara dirinya dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Seseorang berdoa dan meminta Syafa'at melalui perantara-perantara agar do'anya disampaikan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Demikian juga bertawakkal kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla, hal ini merupakan salah satu bentuk kekufuran, karena perbuatan ini adalah bentuk kesyirikan orang-orang musyrik jahiliyah terdahulu, yang telah dijelaskan dan digambarkan dalam Al-Qurân:

"Ingatlah !!! hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): kami tidaklah menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya". (QS. az-Zumar ayat 3)

Allah Ta'ala tidak menjadikan antara dirinya dan hamba-Nya perantara dalam beribadah kepadanya, karena Allah itu dekat, sebagaimana yang telah difirmankan-Nya dalam Al-Qurân:

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi semua perintah-Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran". (QS. al-Baqarah ayat 186)

Contoh: wahai Syaikh (fulan) mintakanlah kepada Allah agar aku selamat atau wahai penunggu kubur melalui perantaraanmu, mohonkanlah kepada Allah agar aku sehat.

Oleh karena itu apabila kita meminta, mintalah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, apabila kita berdoa, maka berdoalah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala secara langsung.



3. Tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, atau ragu dengan kekafiran mereka atau membenarkan keyakinannya dan mazhabnya.

Di dalam Al-Qurân Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menghukumi orang-orang yahudi, nashrani dan penyembah berhala sebagai orang-orang kafir. Maka barang siapa yang tidak mau menghukumi mereka sebagai kafir, maka berarti dia telah menafikan hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan mendustakan apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala kabarkan dalam kitab-Nya, dan barang siapa ragu dengan kekafiran mereka, maka berarti mereka telah meragukan kabar dari Allah ‘Azza wa Jalla beserta hukum-hukum-Nya.

Contoh: Abu Jahal itukan juga muslim, buktinya dia juga berdoa kepada Tuhan atau adanya anggapan bahwa semua agama itu sama, yang berbeda hanya caranya sedangkan tujuannya sama. 

Yahudi adalah baik, nashrani juga baik. Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengkafirkan mereka di dalam Al-Qurân. Diantara contoh yang lain adalah: menganggap faham komunis itu ada juga baiknya.



4. Meyakini bahwa petunjuk yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada Nabi-Nya tidak sempurna dan meyakini bahwa petunjuk yang dibuat oleh manusia lebih sempurna dan lebih baik, atau hukum yang dibuat manusia lebih baik dari hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Apabila hal seperti diatas ada pada diri seorang muslim, maka telah jelas akan rusaknya dan batalnya keislamannya. 

Hal ini disebabkan bahwa apa yang disampaikan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada umatnya merupakan wahyu dari Allah Ta'ala sebagaimana firman-Nya:
"dan tidaklah ia (Nabi Muhammad) itu bicara melalui hawa nafsunya, melainkan itu adalah wahyu yang diwahyukan Allah (kepadanya)". (QS. an-Najm: 3-4)

Diantara hal yang wajib diyakini oleh seorang muslim bahwa petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Syariat yang dibawa oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, khabar yang telah ia sampaikan, lebih baik dan sempurna dari petunjuk, syariat, dan khabar selainnya.

Oleh karena itu siapa yang ragu akan hal-hal yang disebutkan diatas maka sungguh dia telah jatuh kepada kekufuran. 

Untuk lebih meyakinkan hati terhadap hal diatas silahkan para pembaca mebuka dan membaca ayat-ayat di dalam Al-Qurân berikut ini: Surat al-Maidah ayat 5, surat Shod ayat 26, Surat an-Nisa' ayat 60.

Diantara contohnya: seseorang yang meyakini undang-undang yang dibuat oleh manusia lebih baik dari hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala, lebih baik daripada Al-Qurân atau sama derajatnya, atau dengan mengatakan mengamalkan undang-undang ini sama dengan mengamalkan hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala.



5. Membenci Syariat Islam

Siapa yang membenci sesuatu yang datang dari Rasul, walaupun dia mengamalkannya maka sungguh dia telah jatuh kepada lembah kekufuran. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka membenci kepada apa yang diturunkan Allah lalu a Allah menghapus (pahala-pahala) amal-amal mereka". (QS. Muhammad: 9)

Sesungguhnya mencintai Syariat Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah suatu tanda mencintai Allah Subhanahu wa Ta'ala dan benci terhadap Syariat Allah ‘Azza wa Jalla sebagai tanda benci kepada Allah Ta'ala. Orang yang beriman adalah orang yang sangat cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Barang siapa yang cinta kepada Allah Ta'ala, maka dia akan mencintai apa yang Allah ‘Azza wa Jalla perintahkan dan barang siapa yang membenci perintah Allah ‘Azza wa Jalla sama dengan membenci Allah Ta'ala, dan tidak ada manfaat amal yang dilakukannya selama dia membenci Syariat Allah Ta'ala, keadaannya sama dengan orang-orang munafik.

Diantara contoh-contoh sikap benci kepada Syariat Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah: benci kepada perempuan yang berhijab (memakai Jilbab yang Syar'i), benci kepada orang yang mendakwahkan tauhid, benci kepada orang yang mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam seperti seseorang yang memelihara jenggotnya, benci kepada seseorang yang celananya diatas mata kaki, benci kepada hukum Islam dalam warisan dan pandangan sinis kepada ajaran Islam. 

Semua bentuk kebencian yang disebutkan diatas apabila dilakukan oleh seorang muslim diikuti dengan i'tiqad di dalam hatinya maka hal ini akan membatalkan keislamannya, dan sudah sepantasnya seorang mukmin mencintai Allah Ta'ala, karena mencintai-Nya merupakan pokok-pokok keimanan.

Sesungguhnya iman seseorang tidak akan sempurna sampai mereka mau berhukum dengan Syariat Allah Subhanahu wa Ta'ala, tunduk dan patuh kepada-Nya. Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya".(QS. an-Nisa': 65)

Ayat diatas menjelaskan kepada kita bahwasanya Wajib bagi seorang mukmin untuk menjadikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai hakim dalam setiap perselisihan yang terjadi antar sesama mereka, namun disamping itu setiap mu'min juga dituntut untuk memiliki kerelaan dan kecintaan di dalam hatinya atas setiap perkara yang diputuskan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya meskipun bertentangan dengan hawa nafsunya.

Satu hal yang tidak boleh kita meragukan kebenarannya, bahwa membenci Syariat merupakan sebesar-besarnya dosa yang ada pada jiwa manusia, karena kebencian ini akan membuahkan penolakan, dan penolakan akan mengantarkan pelakunya keluar dari ajaran/agama Islam.

Syariat Islam yang mulia ini harus diagungkan, dihormati kebesarannya, karena pengagungan Syariat adalah tanda dari baiknya agama seseorang dan juga sebagai tanda dari jiwa yang bertaqwa sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta'ala jelaskan dalam Al-Qurân:

"Barang siapa yang mengagungkan Syariat-syariat Allah maka sesungguhnya hal itu adalah sebagai tanda hati yang taqwa."

Syaikh al-Hafizh Ibnu Ahmad al-Hakami rahimahullah, ketika beliau ditanya tentang tentang tanda seorang hamba yang cinta kepada Robbnya, maka beliau menjawab; tanda seorang hamba yang cinta kepada Robbnya adalah apabila hamba tersebut mencintai apa yang dicintai oleh Allah Ta'ala, membenci apa yang dibenci oleh Allah, melaksanakan perintah-Nya, meninggalkan larangan-Nya, mencintai orang yang mencintai Allah (para walinya), memusuhi orang yang memusuhi Allah, oleh karena itu sekuat-kuat urat nadi iman adalah: cinta pada agama Allah dan benci pada apa-apa yang Allah benci.

*Tanda tanda seseorang mencintai Syariat Allah.*

1. Tunduk, berserah diri dan patuh kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan perintah Rasul-Nya.
 

2. Menjadikan Al-Qurân dan Sunnah sebagai pedoman.
 

3. Mempelajari dan menuntut ilmu agamanya dengan giat melalui berbagai sarana yang dibolehkan syari'at.
 

4. Mendahulukan/lebih mengutamakan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya dari perintah selainnya.
 

5. Mengadakan pembelaan kepada Syariat Allah Subhanahu wa Ta'ala ketika syariat tersebut dicaci, dihina, dan direndahkan oleh manusia.
 

6. Bersegera kepada kebaikan yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
 

7. Menghormati dan memuliakan para ulama rahimahumullah ‘alihim ajma'in.
 

8. Mencintai apa yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta'ala dan membenci apa yang dibenci Allah Ta'ala.
 

9. Cintanya didasari karena Allah ‘Azza wa Jalla dan benci juga karena Allah Subhanahu wa Ta'ala.
 

10. Menghiasi diri dengan Akhlak yang mulia dan menjauhkan dirinya dari akhlak tercela.

Adapun tanda-tanda seseorang benci kepada syariat Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah kebalikan atau lawan dari tanda-tanda diatas.



6. Berolok-olok terhadap syariat Allah.

Barang siapa yang berolok-olok tentang sesuatu yang berkenaan dengan agama Islam, Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam, pahala-Nya atau siksaan-Nya maka sungguh dia telah kufur, inilah yang telah difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Al-Qurân yang artinya:

"Katakanlah apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu berolok-olok. Tidak usah kamu minta ma'af, karena kamu telah kafir sesudah beriman." (QS. at-Taubah: 65-66)

Ayat yang mulia diatas diturunkan berkenaan dengan perkataan orang-orang munafik yang mencela Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat-sahabatnya pada perang Tabuk dengan perkataannya yang kufur: "Kami tidak melihat seperti mereka-mereka para qari (yang dimaksud adalah nabi dan sahabat-sahabatnya) yang rakus dan pendusta-pendusta dan yang paling penakut ketika bertemu dengan musuh.

 

" Diantara sahabat ada yang tahu dengan kejadian tersebut lalu dia mengkhabarkan hal itu kepada Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam, lalu tiba-tiba mereka (orang-orang munafiq tadi) datang kepada Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta maaf dan mohon untuk diberi uzur sambil mengatakan:

"Kami hanya bercanda dan bersenda gurau dan tidak ada maksud kami untuk mencela dan berolok-olok." Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala menyangkal perkataan mereka dan tidak menerima uzur mereka atas dusta mereka tersebut dengan firman-Nya: "Katakanlah apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu berolok-olok dan tidak ada ma'af bagimu sungguh kamu telah kafir sesudah beriman."

Syaikh Abdurrahman Nasir as-Sa'di rahimahullah menyimpulkan beberapa pelajaran dalam ayat diatas: "Sesungguhnya beristihza' (berolok-olok) dengan Allah dan Rasul-Nya adalah kufur dan salah satu hal yang akan menyebabkan seseorang keluar dari agama Islam, karena landasan agama Islam dibina diatas pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, pengagungan kepada agama-Nya dan kepada Rasul-Nya, sehingga tatkala seorang muslim beristihza' (berolok-olok) kepada Allah ‘Azza wa Jalla, terhadap agama-Nya dan Rasul-Nya maka ini adalah suatu pertanda bahwa orang tersebut telah meruntuhkan dan meniadakan landasan dasar agama ini sehingga pantaslah dia menjadi kufur dan bisa mengeluarkan pelakunya dari ajaran Islam ini.

Contoh istihza' yang sering terjadi di masyarakat seperti orang-orang yang memperolok-olokkan saudaranya yang mengamalkan sunnah dengan mengatakan wahai jenggot, wahai kambing, atau seperti orang yang memperolok-olokkan wanita yang berhijab atau bercadar seperti dengan mengatakan ninja, kolot atau ketinggalan zaman, atau berolok-olok terhadap dakwah yang mengajak kepada yang haq seperti mengatakan dakwah salaf ini tidak relevan lagi, atau hanya mementingkan tauhid dan mengenyampingkan yang lain.

Semua istihza' (berolok-olok) dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala, Rasul-Nya, atau sesuatu yang berkaitan dengan syariat Allah ‘Azza wa Jalla, pada akhirnya akan membawa kepada kekufuran. 

Apapun tujuannya tetap dihukum sama, apakah dia bercanda, atau serius, ataupun untuk menjadikan bahan tertawaan, apakah istihza' itu dilakukan dengan perkataan atau perbuatan, atau dalam bentuk isyarat dan gerakan-gerakan.

Oleh karena itu hendaknya seorang muslim yang ingin memyelamatkan dirinya dari azab Allah ‘Azza wa Jalla menjauhi perkara-perkara diatas, dan mengagungkan syariat Allah Ta'ala ini dengan ikhlas dan berserah diri.



7. Sihir

Sihir adalah perbuatan kufur, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Dan mereka mengikuti apa-apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidaklah kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). 

Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu, sebab itu janganlah kamu kafir". (QS. al-Baqarah: 102)
 

Sesungguhnya sihir tidak akan memperoleh kemenangan sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Dan tidak akan mendapatkan kemenangan tukang sihir dari mana saja mereka datang". (QS. Thahaa: 69)

Segala sesuatu yang ada kaitannya dengan sihir seperti mengajarkannya, mempelajarinya, atau menghilangkan sihir dengan sihir, hal tersebut adalah kufur.

Contoh-contoh sihir:
 

- Sihir di zaman Nabi Musa ‘alaihissalam: tongkat tukang sihir Fir'aun menjadi ular.
 

- Sihir Mahabbah yaitu menyihir seseorang agar jatuh cinta kepadanya dengan cara-cara perdukunan.
 

- Sihir perceraian suami-istri, yang berawal dari cinta, kemudian benci sampai kepada perceraian.
 

- Sihir takhyil yaitu sesesorang mengkhayalkan dirinya berada pada suatu tempat padahal dalam kenyataannya tidaklah demikian.
 

- Sihir penyakit yaitu melalui sihir ini seseorang menderita penyakit yang tidak kunjung-kunjung sembuh.
- dll.

Setiap sihir ada kaitannya dengan jin, syetan dan bintang-bintang. Gangguan sihir tersebut Insya Allah dapat dicegah melalui zikir-zikir yang disyariatkan, baik dari al-Quran maupun Sunnah dan melalui ibadah-ibadah yang Allah Subhanahu wa Ta'ala fardhukan dan juga menjauhi segala bentuk maksiat dan dosa.



8. Mengadakan pembelaan (tolong-menolong) dengan orang-orang musyrik

Sesungguhnya tolong menolong dengan orang musyrik dan membantu mereka untuk memerangi kaum muslimin adalah diantara pembatal keislaman, inilah yang telah dijelaskan oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya: "Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan nasrani sebagai penolong, sebagian mereka adalah penolong atas sebagiannya, siapa diantara kalian yang menjadikan mereka sebagai penolong maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka, sesungguhnya Allah tidak akan menunjuki kaum yang zalim." (QS.al-Maidah: 51)

Hasil dari sifat seperti ini adalah membantu kaum musyrikin untuk mengalahkan kaum muslimin, atau mengangkat bendera mereka, mengagung-agungkan budaya mereka dan salut serta kagum terhadap mereka. 

Jelaslah bagi kita bahwa hal-hal tersebut adalah perbuatan kufur yang wajib untuk kita jauhi.



9. Bolehnya seseorang keluar dari aturan syariat

Merupakan sesuatu yang qath'i (pasti), apabila manusia meyakini bahwa sebagian manusia boleh bagi mereka untuk keluar dari aturan syariat yang Allah Subhanahu wa Ta'ala turunkan kepada nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka keyakinan seperti itu adalah kafir sesuai dengan firman Allah: "Barang siapa yang mencari din (agama) selain dari Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi." (QS. ali Imran: 85)

Diantara contohya adalah seperti keyakinan sebagian kaum sufi terhadap masyayikh (guru-guru) mereka yang bebas dari taklif untuk mengamalkan syariat, bahkan boleh untuk meninggalkannya, atau tanpa merasa berdosa dan bersalah ketika dia terjatuh kepada perbuatan haram, maka jelaslah bahwa keyakinan seperti ini adalah salah satu bentuk kekufuran yang wajib kita jauhi.



10. Berpaling dari syariat Allah Subhanahu wa Ta'ala

Maksudnya adalah tidak mempelajari, tidak pula beramal dengannya sebagaimana Allah Ta'ala berfirman: "Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang diperingatkan dengan ayat-ayat Robb-Nya, kemudian dia berpaling darinya ? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa." (QS. As-Sajadah: 22)

Betapa banyak kita dapatkan pada hari ini kaum muslimin yang tidak peduli sama sekali dengan agamanya, mereka menganggap remeh urusan agama dan melecehkannya serta tidak mementingkan urusan akhirat dan hal inilah yang menjadi penyebab mundurnya umat Islam yaitu saat dimana kita tidak mengerti lagi dengan agama Islam.

Dan yang tidak termasuk berpaling dari syariat adalah kemalasan dalam menuntut ilmu atau melalaikan sebagian kewajiban atau melalaikan sebagian yang diharamkan, walaupun yang demikian itu mendapatkan dosa akan tetapi sesuai dengan apa yang dia lakukan atau yang ia tinggalkan dan hal yang demikian tidaklah mengeluarkan mereka dari Islam.



Penutup

Demikianlah sepuluh pembatal keislaman yang penting diketahui, dijauhi oleh setiap individu muslim sehingga tidak terjebak oleh perkara-perkara yang akan merusak dan membatalkan keislaman.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menunjuki hati kita dan setiap individu muslim, sehingga kita tidak terjibak oleh perkara-perkara yang akan merusak dan membatalkan keislaman kita. 

Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla menunjuki hati kita dan memberikan taufiknya untuk menempuh jalan yang lurus dan diridhai oleh-Nya. 

Wallahu a'lam

SUKSES DUNIA & AKHERAT

sharing tentang konsep bisnis berorientasi akhirat, dengan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama saat kita berusaha. Yaitu, bukan mengejar cita-cita duniawi yang pendek, seperti punya mobil, punya rumah, perusahaan besar, dan seterusnya. Ini cita-cita yang terlalu pendek. Kita naikkan cita-cita kita ke akhirat.

Jika selama ini, kita diajarkan sejak kecil untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit, maka sekalian saja naikkan cita-cita kita ke akhirat. Kenapa tidak?

Toh dengan bercita-cita akhirat, maka Allah Ta'ala akan membantu memudahkan urusan kita, akhirat dapat dan dunia pasti dapat. Sedangkan kalau cita-cita hanya dunia, maka khawatirnya kita hanya mendapat dunia, dan di akhirat kita menjadi orang yang rugi besar.

Allah Ta'ala berfirman,

مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ

“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat maka akan Kami tambah keuntungan itu baginya, dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia maka akan Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.” (Qs. Asy-Syura: 20)

لْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى  

“Akan tetapi, kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Qs. Al-A’laa: 16--17)

Banyak yang bertanya kepada saya, "Bagaimana contoh bekerja dengan orientasi akhirat?"

Jawabannya banyak sekali: bekerja karena ingin menikah, karena ingin menafkahi keluarga, ingin membantu keluarga yang tidak mampu, ingin berhaji, ingin banyak bersedekah seperti si fulan, ingin membangun 100 rumah sakit Islam, ingin menyantuni satu juta anak yatim, dan seterusnya....

Ada kisah menarik di zaman tabiut tabi'in. Seorang ulama besar bernama Abdullah bin al-Mubarak, seorang ulama ahli hadits sekaligus seorang pedagang yang berhasil. Beliau rahimahullah ditanya oleh Fudhail bin Iyadh, "Engkau selalu mengajari kami untuk zuhud terhadap dunia, tetapi aku lihat engkau sibuk berdagang di pasar-pasar."

Abdullah bin al-Mubarak menjawab bahwa dia bersemangat berdagang karena ingin menanggung nafkah ulama-ulama ahli hadits, agar para ulama tersebut tetap fokus mengajar ilmu hadits dan tidak sibuk bekerja. Alasannya, kalau mereka sibuk bekerja, mereka tidak lagi memiliki waktu yang cukup untuk mengajarkan hadits." (Kisah itu disebutkan oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A'alam an-Nubala', pada biografi Abdullah bin al-Mubarak)

Lihatlah betapa indahnya cita-cita ini, dan betapa Allah Ta'ala membuktikan janjinya. Beliau rahimahullah justru sukses dalam berdagang, menjadi pengusaha kaya, namun tetap zuhud terhadap dunia, yaitu tidak meletakkan dunia di hatinya. Dunia hanya sarana, bukan tujuan. Beliau mengerti hakikat kehidupan dunia yang fana, dunia hanya wasilah untuk kebahagiaan akhirat.

Contoh motivasi lain adalah seperti yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (yang artinya), "Wajib atas setiap muslim untuk bersedekah." Dikatakan kepada beliau, "Bagaimana bila ia tidak mampu?" Beliau menjawab, "Ia bekerja dengan kedua tangannya, sehingga ia menghasilkan kemanfaatan untuk dirinya sendiri dan (dengannya ia dapat) bersedekah." (Muttafaqun 'alaih)

Lihatlah, betapa motivasi untuk bekerja hanya karena ingin bersedekah, karena sedekah itu wajib. Sehingga, setelah para sahabat mendengar hadits ini, mereka langsung pergi ke pasar-pasar mencari kerja, meskipun sekadar menjadi kuli angkat barang di punggungnya, hanya untuk mendapatkan upah dan dengan upah itu mereka dapat bersedekah.

Banyak dalil yang menerangkan janji-janji Allah Ta'ala kepada orang-orang yang berorientasi akhirat, bahwa orang yang berorientasi akhirat akan sukses dunia dan akhiratnya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman, 'Wahai anak Adam, beribadahlah sepenuhnya kepada-Ku, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dadamu dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan, niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan, dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia).'" (Hr. Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim)

Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Barangsiapa yang menjadikan kegelisahan, kegundahan, cita-cita, dan tujuannya hanya satu, yaitu akhirat, maka Allah akan mencukupi semua keinginannya. Barangsiapa yang keinginan dan cita-citanya bercerai-berai kepada keadaan-keadaan dunia, materi duniawi, yang dipikirkan hanya itu saja, maka Allah tidak akan peduli di lembah mana dia binasa." (Hr. Ibnu Majah; sanadnya hasan)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, tujuannya akhirat, niatnya akhirat, cita-citanya akhirat, maka dia mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kecukupan di hatinya, Allah mengumpulkan urusannya, dan dunia datang kepada dia dalam keadaan dunia itu hina. Barangsiapa yang obsesinya adalah dunia, tujuannya dunia, niatnya dunia, cita-citanya dunia, maka dia mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kemelaratan ada di depan matanya, Allah mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak datang kecuali yang ditakdirkan untuk dia saja." (Hr. At-Tirmidzi dan lain-lain; hadits shahih)

Nah, masihkah kita ragu dengan janji-janji Allah Ta'ala di atas? Apakah itu cuma dongeng di siang bolong? Siapakah yang paling mampu menepati janjinya? Sungguh sayang, banyak dari kita yang masih ragu dengan janji-janji Allah Ta'ala, dan ikut yakin dengan pameo ini, "Zaman ini zaman edan, kalau tidak ikut arus, bagaimana kita bisa dapat rezeki?", atau "Yang haram saja susah, apalagi yang halal." Maka, jadilah suap-menyuap menjadi keseharian kita, tanpa ada lagi beban, tanpa merasa berdosa, berdusta saat jual-beli menjadi hal yang wajar, dan seterusnya....

Bagaimana mungkin karunia Allah Ta'ala, berupa rezeki, dapat diraih dengan maksiat? Mungkin rezeki itu akan didapat, tetapi rezeki itu tidak akan memiliki berkah. Justru, rezeki tersebut akan membawa petaka, istri dibawa lari orang, anak berzina, kita sendiri terkena penyakit strok dan merana seorang diri di rumah sakit jiwa. Akhir yang buruk, yang tidak satu pun dari kita menginginkannya.

Perhatikan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berikut ini,
"Janganlah kamu merasa bahwa rezekimu datangnya terlambat, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan meninggal, hingga telah datang kepadanya rezeki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya. Maka, tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram." (Hr. Abdur Razaq, Ibnu Hibban, dan al-Hakim)

"Sesungguhnya, Ruhul Qudus (malaikat Jibril) membisikkan dalam benakku bahwa jiwa tidak akan wafat sebelum lengkap dan sempurna rezekinya. Karena itu, hendaklah kamu bertakwa kepada Allah dan memperbaiki mata pencarianmu. Apabila datangnya rezeki itu terlambat, janganlah kamu memburunya dengan jalan bermaksiat kepada Allah, karena apa yang ada di sisi Allah hanya bisa diraih dengan ketaatan kepada-Nya." (Hr. Abu Dzar dan al-Hakim)

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah dan carilah nafkah dengan cara yang baik, karena sesungguhnya seseorang sekali-kali tidak akan meninggal dunia sebelum rezekinya disempurnakan, sekalipun rezekinya terlambat (datang) kepadanya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik, ambillah yang halal dan tinggalkanlah yang haram." (Hadits shahih, Shahih Ibnu Majah no. 1743 dan Ibnu Majah II: 725 no. 214)

Hendaklah kita perhatikan hadits-hadits di atas. Kita diperintahkan untuk berusaha, bersungguh-sungguh, bekerja, memperbaiki mata pencarian, meninggalkan yang haram, dan kita diperintahkan untuk bertakwa. Rezeki yang ada di langit (dari Allah) bukan dicari dengan cara maksiat kepada-Nya. Namun, kita diperintahkan untuk bersungguh-sungguh bekerja, memperbaiki cara mencari rezeki, dan bertakwa.

Ada satu pengalaman pribadi yang menarik, sebagai pembuktian hadits-hadits di atas, yaitu bahwa seseorang tidak akan mati hingga seluruh rezekinya diterima. Kejadiannya terjadi pada ayah saya, yaitu setelah operasi jantung beliau mengalami komplikasi, dan sempat dirawat di ruang ICU selama 30 hari.

Beliau sempat berada dalam kondisi koma selama 2 minggu, setelah itu sadar dan meminta es krim. Dokter mengizinkan saya untuk memberikan es krim tersebut. Setelah habis dimakannya, beliau koma lagi selama dua hari, dan akhirnya meninggal dunia.

Kalau diilustrasikan secara sederhana dari kejadian ini, seolah-olah para malaikat menginventaris kembali rezeki yang harus diterima ayah saya, ternyata ada satu yang tertinggal, yaitu es krim. Maka, ayah saya dibangunkan, diberi es krim, kemudian nyawanya dicabut setelah seluruh rezekinya diterima. Benar sekali, seseorang tidak akan mati sebelum rezekinya dia terima dengan sempurna.

Kejadian ini membuat saya bertambah yakin dengan firman Allah Ta'ala dan sabda Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam di atas.

Masih ada lagi yang bertanya, "Untuk apa kita berusaha kalau rezeki sudah ditentukan?" Jangankan kita, para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun bertanya hal yang sama.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, “Setiap kalian telah ditulis tempat duduknya di surga atau di neraka.” Maka ada seseorang dari suatu kaum yang berkata, “Kalau begitu, kami bersandar saja (tidak beramal, pent), wahai Rasulullah?”

Maka, beliau pun menjawab, “Jangan demikian. Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan.” Kemudian, beliau membaca firman Allah, “Adapun orang-orang yang mau berderma dan bertakwa, serta membenarkan al-husna (surga), maka kami siapkan baginya jalan yang mudah.” (Qs. al-Lail: 5-7). (Hr. Bukhari dan Muslim)

Inilah nasihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada kita, untuk tidak bertopang dagu, serta supaya senantiasa bersemangat dalam beramal dan tidak menjadikan takdir sebagai dalih untuk bermaksiat dan bermalas-malasan. Kita pasti akan dimudahkan menuju takdir kita, selama kita mengikuti firman Allah Ta'ala dalam surat al-Lail ayat 5 hingga 7 tersebut.

Terakhir, marilah kita renungkan firman Allah Ta'ala berikut ini,

مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

"Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (Qs. An-Nahl: 97)

Lihatlah, bahwa jika kita ingin hidup bahagia dengan mendapatkan semua kebaikan (karena ayat tersebut tidak membatasi kebaikan apa, maka ulama menerangkan bahwa yang dimaksud adalah semua kebaikan, baik rezeki, kebahagiaan, ketenangan jiwa, dan lain-lain), maka caranya adalah dengan beramal shalih, dalam keadaan beriman.

Bagaimana kita bisa beriman dan beramal shalih? Mari kita pelajari al-Quran dan mengikuti petunjuk Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam dengan pemahaman yang benar. Insya Allah kita akan selamat.

Wallahu a'alam.

PENJAGAAN DIRI ALA RASULULLAH SHALLALAHU ' ALAIHI WASSALAM VS ALA SETAN





بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
Penjagaan Diri Ala Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam

1.    Bacaan ketika keluar rumah.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ ». قَالَ « يُقَالُ حِينَئِذٍ هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِىَ وَكُفِىَ وَوُقِىَ ».
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika sesorang keluar dari rumahnya kemudian membaca:
بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ
(dengan nama Allah aku bertawakkal kepada Allah tidak ada daya dan kekuatan kecuali Allah).  

Maka pada saat itu dikatakan kepadanya engkau telah diberikan petunjuk, dicukupkan dan dijaga, serta setan-setan akan menjauh darinya, maka setan yang lain berkata: "Bagaimana kamu mengganggu seseorang yang telah diberikan petunjuk", dicukupkan dan dijaga (oleh Allah)". HR Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Shahih Al Jami’, no. 6419.
   
2.    Bacaan ketika turun di sebuah tempat.
سَعْدَ بْنَ أَبِى وَقَّاصٍ يَقُولُ سَمِعْتُ خَوْلَةَ بِنْتَ حَكِيمٍ السُّلَمِيَّةَ تَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ نَزَلَ مَنْزِلاً ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ. لَمْ يَضُرُّهُ شَىْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ ».
Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu berkata; “Khaulah binti Hakim As Sulaimiyyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang singgah di sebuah tempat lalu ia mengucapkan:
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
(Aku  berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan yang tercipta).
 
Maka tidak ada sesuatu apapun yang membahayakannya sampai ia pergi dari tempat itu". HR Muslim.


3.    Bacaan ketika pagi hari.
عُثْمَانَ - يَعْنِى ابْنَ عَفَّانَ - يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلاَءٍ حَتَّى يُصْبِحَ وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلاَءٍ حَتَّى يُمْسِىَ ».
Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan:
بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
(dengan nama Allah yang bisa membahayakan dengan namanya sesuatu apapun yang ada di bumi dan di langit dan Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui)  

tiga kali tidak akan tertimpa musibah mendadak sampai pagi dan siapa yang membacanya ketika pagi hari tiga kali maka tidak akan tertimpa musibah mendadak sampai sore”. HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Shahih Abi Daud, no. 5088.


4.    Bacaan ketika bersetubuh.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِىَ أَهْلَهُ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا ثُمَّ قُدِّرَ أَنْ يَكُونَ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا ».
Abdullah bin Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jikalau seseorang ingin menggauli istrinya kemudian membaca:
بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا
(Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang engkau rizkikan kepada kami) kemudian ditakdirkan mereka berdua mempunyai anak, maka setan tidak akan bisa membahayakannya selamanya". HR Bukhari.


5.    Bacaan meruqyah anak.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ - رضى الله عنهما - قَالَ كَانَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ وَيَقُولُ « إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ ، أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ »
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Senantiasa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam membaca bacaan untuk perlindungan Al Hasan dan al Husain beliau bersabda: “Sesungguhnya bapak kalian berdua (nabi Ibrahim) sesantiasa membaca bacaan untuk perlindungan Ismail dan Ishaq, bacaannya adalah:
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ
(Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan binatang yang beracun dan dari setiap mata yang menyakitkan)”. HR Bukhari.


6.    Membaca surat Al Baqarah.
 أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِىُّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلاَ تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ ». قَالَ مُعَاوِيَةُ بَلَغَنِى أَنَّ الْبَطَلَةَ السَّحَرَةُ.
Abu Umamah Al Bahily radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah surat Al Baqarah sesungguhnya membacanya berkah dan meninggalkannya kerugian serta tukang sihir tidak bisa mengalahkannya”. HR Muslim.


7.    Membaca dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah.
عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ - رضى الله عنه - قَالَ قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « مَنْ قَرَأَ بِالآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِى لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ.
Artinya: Abu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah di waktu malam, maka Allah akan menjaganya". HR Bukhari dan Muslim.


8.    Membaca ayat kursi ketika hendak tidur.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه – قَالَ: لِى رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ الْبَارِحَةَ » . قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ زَعَمَ أَنَّهُ يُعَلِّمُنِى كَلِمَاتٍ ، يَنْفَعُنِى اللَّهُ بِهَا ، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ . قَالَ « مَا هِىَ » . قُلْتُ قَالَ لِى إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ مِنْ أَوَّلِهَا حَتَّى تَخْتِمَ ( اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ ) وَقَالَ لِى لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبَكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ ،
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bercerita: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepadaku: “Apa yang dikerjakan oleh tawananmu tadi malam? Aku menjawab: "Wahai Rasulullah dia mengajariku beberapa bacaan, yang Allah akan memberikan manfaat kepadaku dengan bacaan tersebut, lalu akupun membebaskannya”, Nabi bertanya: “Apakah itu?”, aku menjawab: “Dia berkata kepadaku: “Jika kamu hendak menuju kasurmu maka bacalah ayat kursi dari awal ayat sampai selesai:
{ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ }
Dan dia berkata kepadaku: “Selalu akan ada penjaga bagimu dari Allah dan tidakan ada setan yang mendekatimu sampai pagi”. HR Bukhari.


9.    Bangun pagi dengan mengucap nama Allah dan berwudhu lalu shalat subuh.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ ، وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ » .
Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setan senantiasa mengikatkan pada tengkuk salah seorang dari kalian bila ia tidur  tiga ikatan, lalu ia memukul setiap ikatan (agar menjadi kuat) sambil berkata: "Malam masih panjang, maka tidurlah" bila ia terbangun, kemudian ia menyebut nama Allah, maka terbukalah satu ikatan, bila ia berwudhu, maka terbukalah satu ikatan, dan bila ia menunaikan shalat, maka terbukalah satu ikatan, sehingga iapun pada pagi itu dalam keadaan bersemangat dan berjiwa baik, bila tidak, maka ia akan berjiwa buruk dan malas". HR. Bukhari dan Muslim.


10.                      Menutup bejana
عَنْ جَابِرٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « غَطُّوا الإِنَاءَ وَأَوْكُوا السِّقَاءَ وَأَغْلِقُوا الْبَابَ وَأَطْفِئُوا السِّرَاجَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَحُلُّ سِقَاءً وَلاَ يَفْتَحُ بَابًا وَلاَ يَكْشِفُ إِنَاءً فَإِنْ لَمْ يَجِدْ أَحَدُكُمْ إِلاَّ أَنْ يَعْرُضَ عَلَى إِنَائِهِ عُودًا وَيَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ فَلْيَفْعَلْ فَإِنَّ الْفُوَيْسِقَةَ تُضْرِمُ عَلَى أَهْلِ الْبَيْتِ بَيْتَهُمْ
Artinya: "Jabir radhiyallah 'anhu berkata: bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tutuplah bejana, ikatlah geribah (tempat menyimpan air yang terbuat dari kulit-pen), tutuplah pintu, matikanlah lentera (lampu), karena sesungguhnya setan tidaklah mampu mengurai geribah yang terikat, tidak dapat membuka pintu, dan tidak juga dapat menyingkap bejanan (yang tertutup). 

Bila engkau tidak mendapatkan (tutup) kecuali hanya dengan melintangkan diatas bejananya sebatang ranting, dan menyebut nama Allah, hendaknya ia lakukan". HR Muslim.
Pada riwayat lain:
(غَطُّوا الإِنَاءَ وَأَوْكُوا السِّقَاءَ فإن في السَّنَةِ لَيْلَةً يَنْزِلُ فيها وَبَاءٌ، لاَ يَمُرُّ بِإِنَاءٍ ليس عليه غِطَاءٌ، أو سِقَاءٍ ليس عليه وِكَاءٌ، إلاَّ نَزَلَ فيه من ذلك الْوَبَاءِ). رواه مسلم
"Tutuplah bejana, dan  ikatlah geribah, karena pada setiap tahun ada satu malam (hari) yang padanya turun wabah

Tidaklah wabah itu melalui bejana yang tidak bertutup, atau geribah yang tidak bertali, melainkan wabah itu akan masuk ke dalamnya". HR Muslim.



11.                      Makan tujuh kurma
عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِى وَقَّاصٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ ».
Artinya: "Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barang siapa yang setiap pagi hari makan tujuh biji buah kurma ajwa, niscaya pada hari itu ia tidak akan terganggu oleh racun atau sihir". HR. Bukhari dan Muslim.

*Penjagaan Ala Setan*

1.    Pergi ke Kahin (orang yang mengaku mengetahui akan hal gaib yang akan datang), ‘Arraf (orang yang mengaku mengetahui akan hal gaib yang telah lalu) dan Sahir (orang yang membuat rajah, jimat, jampi-jampi untuk membahayakan orang yang disihir).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan dalam berbagai haditsnya sebagaimana riwayat berikut :
مَنْ أَتَى عَرَّافاً فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً
Artinya: “Barang siapa mendatangi ‘Arraf (peramal) dan menanyakan sesuatu kepadanya, tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari”. HR Muslim.
عَن أَبِى هُرَيْرَةَ وَالْحَسَنِ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ».
Artinya: " Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barang siapa yang mendatangi kahin atau 'Arraf dan membenarkan apa yang yang ia katakan maka sungguh telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam". HR Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Shahih Al Jami', no. 5939.

عن عمران بن الحصين رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم    : لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ وَمَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم 
Artinya: "Dari Imran bin Hushain radhiyallahu 'anhu, ia menuturkan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bukan dari golongan kami, orang yang percaya kepada nasib sial dan yang minta diramal tentang nasib sialnya atau yang melakukan praktek dukun dan yang didukuni atau yang menyihir atau yang meminta bantuan sihir, dan barang siapa yang mendatangi  dukun dan membenarkan apa yang ia katakan, maka sesungguhnya ia telah kafir pada apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam". HR Al Bazzar dengan sanad yang baik dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 2195.


2.    Memakai jimat dengan segala macam bentuknya.
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَقْبَلَ إِلَيْهِ رَهْطٌ فَبَايَعَ تِسْعَةً وَأَمْسَكَ عَنْ وَاحِدٍ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ بَايَعْتَ تِسْعَةً وَتَرَكْتَ هَذَا قَالَ « إِنَّ عَلَيْهِ تَمِيمَةً ». فَأَدْخَلَ يَدَهُ فَقَطَعَهَا فَبَايَعَهُ وَقَالَ « مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ ».
Artinya: "Uqbah bin Amir al Juhani radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam didatangi oleh sekitar sepuluh orang kemudian beliau membaiat sembilan dari mereka dan menahan satu orang, lalu mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, engkau telah membaiat sembilan dan engkau sisakan satu orang ini?", kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Sesungguhnya orang ini memakai jimat", kemudian orang ini memasukkan tanggannya lalu ia putuskan jimatnya kemudian nabi membaiatnya seranya bersabda: "Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka ia telah berbuat syirik". HR Ahmad dan dan dishahihkan oleh Imam Al Albani di dalam As Silsilah Ash Shahihah, no. 492.


3.    Pergi ke kuburan keramat bukan untuk ziarah tapi untuk ngalap berkah.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- « اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ قَبْرِى وَثَناً لَعَنَ اللَّهُ قَوْماً اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ ».
Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ya Allah janganlah jadikan kuburanku berhala, Allah telah melaknat orang-orang yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid". HR Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Ahkamul Janaiz.


4.    Meminta berkah atau perlindungan dengan pohon yang diyakini berkeramat.

عَنْ أَبِى وَاقِدٍ اللَّيْثِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَمَّا خَرَجَ إِلَى خَيْبَرَ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى (اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ) وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.
Artinya: "Abu Waqid Al-Laitsi radhiyallahu 'anhu menuturkan: “Suatu waktu kami pergi bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ke Hunain, dan kami dalam keadaan baru saja terlepas dari kekafiran (masuk Islam). 

Ketika itu orang-orang musyrik mempunyai sebatang pohon bidara yang disebut Dzat Anwath, mereka selalu mendatanginya dan meng-gantungkan senjata-senjata perang mereka pada pohon itu. Tatkala kami melewati sebatang pohon bidara, kami pun berkata: “Ya Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzat Anwath sebagaimana mereka itu mempunyai Dzat Anwath.” Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
((اللَّـهُ أَكْبَرُ، إِنَّهَا السُّنَنُ، قُلْتُمْ وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ كَمَا قَالَتْ بَنُوْ إِسْرَائِيْلَ لِمُوْسَى: “ اِجْعَلْ لَنَا إِلـهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ “، قَالَ: “ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ “، لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ))
“Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Itulah tradisi (orang-orang sebelum kamu). Dan demi jiwaku yang berada di Tangan-Nya, kalian benar-benar telah mengatakan suatu perkataan seperti yang dikatakan oleh Bani Israil kepada Musa, “Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka itu mempunyai sesembahan-sesembahan.” Musa menjawab: Sungguh, kalian adalah kaum yang tidak mengerti". Pasti, kalian akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian". HR At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Shahih Tirmidzi, no. 2180.


5.    Minta tolong atau perlindungan dengan jin.
{وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا}
Artinya: "Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan". QS Al Jin:6

Berkata Syeikh Al Mufassir Abdurrahman bin Nashir As Sa'diy rahimahullah (w:1376H): "Maksudnya adalah dahulu, manusia menyembah jin dan meminta perlindungan kepada mereka disaat ketakutan dan kegelisahan, maka jin bertambah sombong dan melampaui batas terhadap manusia, dikarenakan apa yang mereka lihat, yaitu ketika manusia menyembah dan meminta perlindungan kepada mereka. Dan mungkin yang dimaksudkan adalah bahwa pelaku dari kata kerja "mereka bertambah" adalah jin, maksudnya, jin menambah kepada manusia rasa takut dikarenakan apa yang mereka (jin) lihat dari manusia yang meminta perlindungan kepada mereka, agar manusia kembali meminta perlindungan dengan mereka (jin), dahulu jika seorang manusia jika singgah di sebuah danau yang ditakuti, dia berkata: "Aku berlindung kepada penguasa danau ini dari kaumnya yang jahat". 

Lihat Taisir Al Karim Ar Rahman fi Tafsir Al Kalam Al Manan, hal: 890. Wallahu a'lam.